
PPPB — Program Pertanian Presisi Banua : "Digitalisasi, Literasi Teknologi & Optimalisasi Hasil Panen Petani serta Pertanian Rendah Emisi di Kalimantan Selatan" melalui kemitraan multi-pihak : Pemerintah Daerah - Perusahaan (CSR/TJSLP) - Petani & Kelompok Tani.
PPPB adalah program kemitraan multi-pihak yang mendampingi petani menggunakan data, input tepat guna, dan teknologi yang langsung dipakai di lapangan. Melalui fokus pada komoditas strategis — padi, jagung, cabai, dan bawang merah — PPPB turut memperkuat ketahanan pangan nasional: pasokan lebih stabil, harga pangan lebih terjaga, dengan produksi yang lebih efisien dan rendah emisi.
Profil petani dan lahan diverifikasi sebagai pondasi digitalisasi — data menjadi modal akses pembiayaan (KUR) dan kemitraan pasar/off-take.

Catat tanam–pemupukan–panen; pupuk dan pestisida dipakai sesuai dosis rekomendasi berbasis uji tanah, bukan kebiasaan.

Pelacakan batch panen (QR), irigasi hemat air (fertigasi/AWD), praktik tanpa bakar, serta pengukuran karbon tanah awal–akhir (uji lab SOC).

Menghadirkan model pertanian presisi yang partisipatif dan berkelanjutan melalui kemitraan multi-pihak (pemerintah daerah, perusahaan, masyarakat, dan pelaku usaha). Sasaran akhirnya sejalan dengan agenda ketahanan pangan nasional: memastikan ketersediaan, keterjangkauan, dan keberlanjutan pasokan pangan dari Banua untuk Indonesia.
Meningkatkan kesejahteraan petani melalui digitalisasi dan pertanian presisi — input tepat, biaya efisien, hasil lebih baik.

Menumbuhkan literasi teknologi petani, kios, dan kelompok tani agar siap mengadopsi inovasi lanjutan.

Membangun data karbon tanah dan profil emisi aktivitas usaha tani (baseline SOC + IPCC Tier 1) sebagai dasar pertanian rendah emisi dan nilai tambah jangka panjang.

Petani: biaya input lebih efisien (dosis nitrogen & pestisida menurun), produktivitas dan mutu panen meningkat, pendapatan bersih naik. Daerah: rantai nilai dan off-take menguat. Perusahaan & mitra: kontribusi terukur dengan dampak yang dapat dilaporkan (SROI).

Petani & komunitas: literasi digital meningkat, paparan pestisida dan asap berkurang, kelompok tani lebih mandiri. Pemda: kapasitas penyuluhan (PPL) dan partisipasi warga menguat. Mitra strategis (yayasan, NGO, media): kanal edukasi, pendampingan, dan publikasi dampak yang nyata.

Petani: lahan sehat dan hemat air. Daerah: data karbon tanah menjadi aset pembangunan. Perusahaan: kontribusi rendah emisi yang selaras ESG. Semua pihak: menuju pertanian rendah emisi yang terbukti — SOC terukur awal–akhir dan praktik tanpa bakar.

Mendukung ketahanan pangan, digitalisasi pertanian, dan E-OPTIMA/TJSLP; membangun basis data lahan, praktik, dan karbon tanah sebagai aset daerah untuk program lanjutan.

Program terstruktur, terukur, dan dapat dilaporkan sebagai kontribusi sosial-lingkungan perusahaan — kerangka dampak siap audit.

Ruang nyata bagi yayasan, NGO, media, dan lembaga lain: pendampingan lapangan, akses data program, publikasi dampak, dan co-branding — reputasi semua pihak ikut tumbuh.

Biaya input turun ≥10–20%, hasil & mutu naik, pendapatan bersih meningkat, dan riwayat lahan terdokumentasi membuka akses KUR serta off-take.

Baseline SOC bulan 0 vs 12, profil emisi per lahan (IPCC Tier 1), hemat air, dan nol bakar — dasar potensi insentif/klaim karbon fase lanjutan.

Pendampingan lanjutan, perluasan bertahap, dan model pendanaan campuran (APBD/CSR/partisipasi masyarakat) untuk kemitraan berulang.

Setiap kelompok tani mengelola satu unit lahan percontohan bersama yang didampingi penuh; praktik yang sama diterapkan petani di lahannya masing-masing dengan biaya petani sendiri. Luas unit dan sebaran lokasi ditetapkan bersama para pihak.
Lahan dan profil petani diverifikasi; sampel tanah (0–20 cm) diuji di laboratorium pada awal dan akhir program — termasuk kandungan karbon tanah sebagai bukti dampak.

Dosis pupuk ditetapkan dari hasil uji tanah dan data lahan — bukan kebiasaan: unsur P dan K mengikuti kelas status hara tanah, unsur N mengikuti kondisi tanaman. Rekomendasi dapat berkurang maupun bertambah sesuai hasil uji; yang dijanjikan adalah ketepatan dosis, bukan semata penghematan biaya input.

Sensor lapangan memantau kadar air, daya hantar listrik (EC), dan suhu tanah secara berkala — untuk penjadwalan irigasi, pemantauan tren, dan pemetaan zona lahan. Kadar hara nitrogen, fosfor, dan kalium, serta pH tanah, tidak ditetapkan dari sensor, melainkan dari uji laboratorium; data sensor dikalibrasi melalui sampel berpasangan dengan hasil laboratorium. Satu unit acuan lengkap dijaga sebagai pembanding hasil laboratorium dan untuk kalibrasi berkala, sehingga ketelitian sensor lapangan dapat dibuktikan. Tingkat presisi kami nyatakan terbuka: berbasis sensor penuh pada lahan percontohan, dan berbasis rekomendasi bersama pada lahan petani.

Lahan hortikultura menerapkan fertigasi tetes — pemberian air dan pupuk dilakukan bersamaan. Penghematan air 30–50% dibanding penyiraman manual (kisaran percobaan lapangan pada hortikultura sejenis), sedangkan padi dengan pengairan berselang (AWD) 20–30%; volume absolut diukur selama program.

Residu panen tidak dibakar — bahan organik dikembalikan ke lahan; mengurangi asap, menjaga tanah, dan memperkuat dampak lingkungan program.

Kegiatan dicatat digital/oleh petugas; hasil panen dilacak dengan QR Code untuk off-taker; akhir program dievaluasi dan dilaporkan sebagai dampak terukur.

Fase 2–4 dijalankan setelah kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) ditandatangani; jadwal fase berikutnya mengikuti waktu kesepakatan.
Program terbuka bagi Pemerintah Daerah, perusahaan, LSM/NGO, Yayasan, Media dan lembaga pendukung lainnya yang memiliki wilayah operasional di Kalimantan Selatan.
Ruang logo mitra terbuka — jadilah mitra pertama PPPB; logo mitra yang bergabung akan tampil di sini.
Kami mengundang Pemerintah Daerah dan perusahaan di Kalimantan Selatan untuk berpartisipasi mewujudkan pertanian yang lebih digital, sejahtera, dan berkelanjutan.

Isi formulir — pesan terbuka di aplikasi email Anda (pppb@hqtani.com) atau langsung chat WhatsApp.